GpY8BSMpTUM6GSC5TUr8TfClTA==

Tawasul Bukan Syirik; Bagaimana Cara Tawasul Yang Benar?

Tawasul bukan meminta kepada orang yang sudah meninggal, namun berdo'a atau memohon kepada Allah.
 (source foto: nu online)

 Pertanyaan

Assalamualaikum. Yang saya hormati Pengasuh Tanya Jawab NU Online Dawe. Saya mau bertanya: Bagaimanakah cara bertawasul yang benar? Mohon bisa diberi contoh tawasul. Terima kasih. Subiyanto (nama samaran) Kaliwungu.

 

Jawaban :

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah.

Saudara penanya dan pembaca, semoga dirahmati oleh Allah!

Perlu kita ketahui bahwa bertawassul itu adalah salah satu cara berdoa kepada Allah SWT agar suatu permohonan tercapai. Selain itu, tawassul juga salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada prinsipnya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara. Perantara tersebut bisa berupa amal baik kita. Bisa juga perantara berupa orang sholeh, para wali Allah, yang memiliki posisi lebih dekat kepada Allah SWT.

Dengan demikian, tawassul bukanlah berdoa (memohon) kepada selain Allah. Tegasnya, tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang yang berfaham Salafi-Wahabi. Sebab orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua hajat kita.

Terkait masalah tawassul, mari kita pahami firman Allah ta'ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan yang bisa mendekatkan diri) kepada-Nya……(QS. Al-Maidah [5]:35)

Pada ayat di atas, ada perintah untuk bertakwa dan juga ada perintah untuk mencari wasilah kepada Allah. Bertakwa adalah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Sedangkan mencari Wasilah adalah apapun yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Termasuk hal ini adalah dengan mencintai para nabi Allah dan para wali-wali Nya, banyak bersedekah, berziarah kepada para kekasih Allah, banyak berdoa, silaturahim, banyak berdzikir dan lain sebagainya.

Saudara penanya dan pembaca, semoga dirahmati oleh Allah !

Dalil tawassul banyak sekali, diantaranya adalah sebuah hadits sahih, bahwa Sayyidina Umar Ibnul Khattab bertawassul dengan Rasulullah dan Sahabat Abbas ketika musim paceklik. Mari kita simak hadis riwayat Imam Bukhari berikut ini:

 

عنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

 

“Dari sahabat Anas; bahwasannya Umar bin al-Khattab r.a. apabila dalam keadaan paceklik (kekeringan) ia memohon hujan dengan wasilah Sahabat Abbas Ibn Abdil Muthalib, maka berdo’a sayyidina Umar : Yaa Allah sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau dengan wasilah paman Nabi kami (Sahabat Abbas) maka berilah kami hujan, berkata Sayyidina Umar kemudian diturunkan hujan”. (HR Bukhari, no.954, 3434)

Saudara penanya dan pembaca, semoga dirahmati oleh Allah !

Perlu dipahami bahwa, bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para nabi dan para wali Allah, bukan berarti meminta kepada mereka, tetapi memohon agar mereka ikut memohon kepada Allah agar permohonan do’a diterima Allah SWT. Karena itu, bertawassul, baik dengan amal saleh dan dengan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah, itu dibenarkan agama. Jelasnya tidak ada unsur  syirik sama sekali dalam bertawassul.

Untuk itu, agar kita benar dalam bertawassul dan terhindar dari syirik, kita harus tahu tata cara bertawassul yang benar. Jangan sampai bertawassul  meminta-minta kepada wali yang dijadikan wasilah. Berdoalah kepada Allah SWT meskipun dengan bertawassul kepada para wali.

Maka bisa kita pahami mengapa di makam sunan Muria Kudus pengurus makam memasang tulisan “Berdoa, Memohon Hanya Kepada Allah.” Tentu ini sebagai upaya pengurus makam mengingatkan kepada para peziarah agar berziarah dan berdoa dengan benar.

Berikut ini contoh lafal tawasul yang biasa digunakan masyarakat:

 اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya, “Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui kemuliaan nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW.”
Demikian, semoga bermanfaat.

 

Referensi :

1. Hasyiyah Al-Shawi 'ala Tafsir al-Jalalain, 1/265, cetakan Dar Al Jamil

2. Raf'u al-Manarah Li Takhrij Ahaadits al-Tawassul wa al-Ziarah, hal. 16

Lampiran Ibarat Kitab :

* حاشية الصاوي على تفسير الجلالين ، ٢٦٥/١

 فالتقوى هنا ترك المخالفات ، وابتغاء الوسيلة فعل المأمورات، و يصح أن المراد بالتقوی امتثال المأمورات الواجبة وترك المنهيات المحرمة ، وابتغاء الوسيلة مايقربه إليه مطلقا ، ومن جملة ذلك محبة أنبياء الله وأوليائه والصدقات وزيارة أحباب الله وكثرة الدعاء وصلة الرحم وكثرة الذكر وغير ذلك ، فالمعني كل ما يقربكم إلى الله فلزموه واتركوا ما يبعدكم عنه ، إذا علت ذلك فمن الضلال البين والخسران الظاهر تكفير المسلمين بزيارة أولياء الله زاعمين له أن زيارتهم من عبادة غير الله ، كلا بل هي من جملة الحبة في الله التي قال فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم ألا لاإيمان لمن لامحبة له ، والوسيلة له التي قال الله فيها وابتغوا إليه الوسيلة

 


Editor : MI

Nara Sumber : Kiai Aniq Abdullah, S.Pd.I



Redaksi menerima pertanyaan seputar keislaman. 
Silahkan kirim via WA 085228654655 / 085640641399

Komentar0

Type above and press Enter to search.